Selasa, 11 Maret 2014

Menumbuhkan Karakter pada Peserta Didik Melalui Pendidikan

Tawuran, narkoba, seks bebas dan krisis moral telah banyak terjadi di bangsa ini terutama pada kalangan remaja yang kebanyakan dari mereka berstatus sebagai peserta didik. Apakah pendidikan tidak dapat menjamin karakter peserta didik? Pendidikan karakter telah digaung-gaungkan oleh banyak institusi pendidikan. Namun hasilnya masih nihil, bahkan bertambah parah. Ini terjadi bukan hanya karena pendidikan semata, melainkan kegagalan dalam menumbuhkan karakter juga mengakibatkan berbagai aspek timbul sebagai krisis moral yang kronis. Dalam keadaan seperti ini, dibutuhkan suatu penunjang untuk memperbaikinya


Salah satu penunjang pembentukan karakter seseorang adalah melalui pendidikan. Pendidikan sebagai suatu proses yang dialami manusia untuk membentuk karakter dalam rangka pendewasaan diri. Proses pendidikan tidak hanya berlangsung dalam suatu institusi pendidikan semata, tetapi dalam segala aspek kehidupan. Pendidikan kini dituntut bukan hanya sebatas penyampaian materi pelajaran saja tetapi juga sebagai ajang pengembangan diri seseorang dalam akademik maupun non-akademiknya. Pendidikan telah disalah artikan oleh banyak orang yang mengganggap pendidikan hanya sebatas proses transfer ilmu, tetapi sesungguhnya lebih dari itu. Pendidikan sebagai salah satu dasar pembentukan karakter yang sangat riskan peranannya. Dalam pembentukan karakter, pendidikan berkaitan erat dengan sosialisasi dan kebudayaan yang ditanamkan pada diri peserta didik.


 Goodenough, Spradley, dan Geertz mendefinisikan arti kebudayaan dimana kebudayaan  merupakan suatu sistem pengetahuan, gagasan, dan ide yang dimiliki suatu kelompok masyarakat yang berfungsi sebagai landasan pijak dan pedoman bagi masyarakat itu dalam bersikap dan berperilaku dalam lingkungan alam dan social di tempat mereka berada. Dari sini kita dapat menemukan kesamaan antara kebudayaan dengan pendidikan yakni terletak pada nilai-nilai. Pendidikan berperan sebagai agen penyampaian nilai-nilai budaya. Pada dasarnya pendidikan tidak pernah bisa dilepas dari ruang lingkup kebudayaan. Kebudayaan merupakan hasil perolehan manusia selama menjalin interaksi kehidupan baik dengan lingkungan fisik maupun nonfisik.


Fungsi pendidikan dalam konteks kebudayaan dapat dilihat dalam perkembangan kepribadian manusia. Pendidikan bukan hanya semata-mata transmisi kebudayaan secara pasif tetapi perlu mengembangkan kepribadian yang kreatif. Namun yang terjadi kini, kebanyakan institusi pendidikan justru memampatkan kreativitas siswa, sehingga kreativitas siswa tidak dapat berkembang dengan baik.


Kebudayaan sebenarnya adalah istilah sosiologis untuk tingkah laku yang bisa dipelajari. Dengan demikian tingkah laku manusia bukanlah diturunkan seperti tingkah laku binatang tetapi yang harus dipelajari kembali berulang-ulang dari orang dewasa dalam suatu generasi. Di sini akan terlihat betapa pentingnya pendidikan dalam pembentukan kepribadian seseorang.


Melalui pewarisan kebudayaan dan internalisasi pada setiap individu, pendidikan hadir dalam bentuk sosialisasi kebudayaan, berinteraksi dengan nilai-nilai masyarakat setempat dan memelihara hubungan timbal balik yang menentukan proses-proses perubahan tatanan sosio-kultur masyarakat dalam rangka mengembangan kemajuan peradabannya. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kebudayaan amat erat hubungannya dengan interaksi sosial dalam kehidupan  bermasyarakat.


Sosiologi sebagai ilmu pengetahuan telah memiliki lapangan penyelidikan, sudut pandang, metode dan susunan pengetahuan yang jelas. Objek penelitian sosiologi pendidikan adalah tingkah laku social, yaitu tingkah laku manusia dan institusi social yang terkait dengan pendidikan. Sosiologi pendidikan menekan implikasi dan akibat social dari pendidikan dan memandang pendidikan dari sudut struktur social masyarakat.


Menurut Dodson, sosiologi pendidikan mempersoalkan pertemuan dan pencampuran dari lingkungan sekitar kebudayaan secara totalitas sedemikian rupa sehingga terbentuknya tingkah laku tertentu dan sekolah atau lingkungan pendidikan dianggap sebagai bagian dari total cultural miliu. E. George Payne yang merupakan bapak sosiologi pendidikan memberikan penekanan bahwa dalam lembaga-lembaga, kelompok-kelompok sosial dan proses sosial terdapat hubungan yang saling terjalin, di mana di dalam interaksi sosial itu individu memperoleh dan mengorganisasi pengalamannya. Dalam konteks sosial, pendidikan memberikan andil menterjemahkan nilai-nilai baru yang tumbuh akibat proses pergulatan sejarah dalam wujud emansipasi integrasi dalam struktur sosialnya.


Bagi suatu masyarakat, hakikat pendidikan diharapkan mampu berfungsi menunjang bagi kelangsungan dan proses kemajuan hidupnya. Agar masyarakat itu dapat melanjutkan eksistensinya, maka diteruskan nilai-nilai, pengetahuan, keterampilan dan bentuk tata perilaku lainnya kepada generasi muda. Tiap masyarakat selalu berupaya meneruskan kebudayaannya dengan proses adaptasi tertentu sesuai corak masing-masing periode zamannya kepada generasi muda melalui pendidikan, atau secara khusus melalui interaksi sosial. Dengan demikian fungsi pendidikan tidak lain adalah sebagai proses sosialisasi.


Berbicara mengenai karakter tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Penanaman karakter pada peserta didik membutuhkan waktu yang cukup lama dengan dukungan dari berbagai aspek. Pendidikan diharapkan dapat menjadi media penyampaian kebudayaan dan bagaimana karakter tersebut dapat berkembang dengan baik. Seperti yang kita ketahui selama ini, karakter jati diri Bangsa Indonesia kini semakin pudar seiring perkembangan zaman, kebudayaan Barat telah menjalar dalam berbagai aspek kehidupan menggeser karakter ke-Timur-an yang selama ini menjadi identitas Bangsa Indonesia. Sebaiknya sebagai lembaga pendidikan seperti sekolah dapat menjadi media dalam pengembangan diri dan juga pengembangan karakter peserta didik sehingga akan tercipta akhlaqul karimah pada diri masing-masing individu. Di sini dibutuhkan peran penting guru yang notabennya sebagai orang tua siswa di sekolah, sarana dan prasarana yang efektif dalam pelaksanaannya . Diharapkan guru tidak hanya mengajar tetapi juga mendidik seperti peribahasa jawa yakni Guru, digugu dan ditiru maksudnya adalah guru mampu memberi teladan bagi siswanya.


Hubungan sosiologi dan kebudayaan dengan pendidikan terletak pada penyampaiannya yaitu pendidikan sebagai agen transfer nilai kebudayaan pada peserta didik sehingga dapat tercipta masyarakat yang berbudaya, dalam arti memiliki karakter yang dapat berkontribusi untuk masyarakat.