Menumbuhkan
Karakter pada Peserta Didik Melalui Pendidikan
Tawuran, narkoba, seks bebas dan krisis moral telah
banyak terjadi di bangsa ini terutama pada kalangan remaja yang kebanyakan dari
mereka berstatus sebagai peserta didik. Apakah pendidikan tidak dapat menjamin
karakter peserta didik? Pendidikan karakter telah digaung-gaungkan oleh banyak
institusi pendidikan. Namun hasilnya masih nihil, bahkan bertambah parah. Ini
terjadi bukan hanya karena pendidikan semata, melainkan kegagalan dalam
menumbuhkan karakter juga mengakibatkan berbagai aspek timbul sebagai krisis
moral yang kronis. Dalam keadaan seperti ini, dibutuhkan suatu penunjang untuk
memperbaikinya
Salah satu penunjang pembentukan karakter seseorang
adalah melalui pendidikan. Pendidikan sebagai suatu proses yang dialami manusia
untuk membentuk karakter dalam rangka pendewasaan diri. Proses pendidikan tidak
hanya berlangsung dalam suatu institusi pendidikan semata, tetapi dalam segala
aspek kehidupan. Pendidikan kini dituntut bukan hanya sebatas penyampaian materi
pelajaran saja tetapi juga sebagai ajang pengembangan diri seseorang dalam
akademik maupun non-akademiknya. Pendidikan telah disalah artikan oleh banyak
orang yang mengganggap pendidikan hanya sebatas proses transfer ilmu, tetapi
sesungguhnya lebih dari itu. Pendidikan sebagai salah satu dasar pembentukan
karakter yang sangat riskan peranannya. Dalam pembentukan karakter, pendidikan
berkaitan erat dengan sosialisasi dan kebudayaan yang ditanamkan pada diri
peserta didik.
Goodenough,
Spradley, dan Geertz mendefinisikan arti kebudayaan dimana kebudayaan merupakan suatu sistem pengetahuan, gagasan,
dan ide yang dimiliki suatu kelompok masyarakat yang berfungsi sebagai landasan
pijak dan pedoman bagi masyarakat itu dalam bersikap dan berperilaku dalam
lingkungan alam dan social di tempat mereka berada. Dari sini kita dapat
menemukan kesamaan antara kebudayaan dengan pendidikan yakni terletak pada
nilai-nilai. Pendidikan berperan sebagai agen penyampaian nilai-nilai budaya.
Pada dasarnya pendidikan tidak pernah bisa dilepas dari ruang lingkup
kebudayaan. Kebudayaan merupakan hasil perolehan manusia selama menjalin
interaksi kehidupan baik dengan lingkungan fisik maupun nonfisik.
Fungsi pendidikan dalam konteks kebudayaan dapat
dilihat dalam perkembangan kepribadian manusia. Pendidikan bukan hanya
semata-mata transmisi kebudayaan secara pasif tetapi perlu mengembangkan
kepribadian yang kreatif. Namun yang terjadi kini, kebanyakan institusi
pendidikan justru memampatkan kreativitas siswa, sehingga kreativitas siswa
tidak dapat berkembang dengan baik.
Kebudayaan sebenarnya adalah istilah sosiologis
untuk tingkah laku yang bisa dipelajari. Dengan demikian tingkah laku manusia
bukanlah diturunkan seperti tingkah laku binatang tetapi yang harus dipelajari
kembali berulang-ulang dari orang dewasa dalam suatu generasi. Di sini akan
terlihat betapa pentingnya pendidikan dalam pembentukan kepribadian seseorang.
Melalui pewarisan kebudayaan dan internalisasi pada
setiap individu, pendidikan hadir dalam bentuk sosialisasi kebudayaan,
berinteraksi dengan nilai-nilai masyarakat setempat dan memelihara hubungan
timbal balik yang menentukan proses-proses perubahan tatanan sosio-kultur
masyarakat dalam rangka mengembangan kemajuan peradabannya. Sehingga dapat disimpulkan
bahwa kebudayaan amat erat hubungannya dengan interaksi sosial dalam
kehidupan bermasyarakat.
Sosiologi sebagai ilmu pengetahuan telah memiliki
lapangan penyelidikan, sudut pandang, metode dan susunan pengetahuan yang
jelas. Objek penelitian sosiologi pendidikan adalah tingkah laku social, yaitu
tingkah laku manusia dan institusi social yang terkait dengan pendidikan.
Sosiologi pendidikan menekan implikasi dan akibat social dari pendidikan dan
memandang pendidikan dari sudut struktur social masyarakat.
Menurut Dodson, sosiologi pendidikan mempersoalkan
pertemuan dan pencampuran dari lingkungan sekitar kebudayaan secara totalitas
sedemikian rupa sehingga terbentuknya tingkah laku tertentu dan sekolah atau
lingkungan pendidikan dianggap sebagai bagian dari total cultural miliu. E. George Payne yang merupakan bapak
sosiologi pendidikan memberikan penekanan bahwa dalam lembaga-lembaga,
kelompok-kelompok sosial dan proses sosial terdapat hubungan yang saling
terjalin, di mana di dalam interaksi sosial itu individu memperoleh dan
mengorganisasi pengalamannya. Dalam konteks sosial, pendidikan memberikan andil
menterjemahkan nilai-nilai baru yang tumbuh akibat proses pergulatan sejarah
dalam wujud emansipasi integrasi dalam struktur sosialnya.
Bagi suatu masyarakat, hakikat pendidikan diharapkan
mampu berfungsi menunjang bagi kelangsungan dan proses kemajuan hidupnya. Agar
masyarakat itu dapat melanjutkan eksistensinya, maka diteruskan nilai-nilai,
pengetahuan, keterampilan dan bentuk tata perilaku lainnya kepada generasi
muda. Tiap masyarakat selalu berupaya meneruskan kebudayaannya dengan proses
adaptasi tertentu sesuai corak masing-masing periode zamannya kepada generasi
muda melalui pendidikan, atau secara khusus melalui interaksi sosial. Dengan
demikian fungsi pendidikan tidak lain adalah sebagai proses sosialisasi.
Berbicara mengenai karakter tidaklah semudah
membalikkan telapak tangan. Penanaman karakter pada peserta didik membutuhkan
waktu yang cukup lama dengan dukungan dari berbagai aspek. Pendidikan
diharapkan dapat menjadi media penyampaian kebudayaan dan bagaimana karakter
tersebut dapat berkembang dengan baik. Seperti yang kita ketahui selama ini,
karakter jati diri Bangsa Indonesia kini semakin pudar seiring perkembangan
zaman, kebudayaan Barat telah menjalar dalam berbagai aspek kehidupan menggeser
karakter ke-Timur-an yang selama ini menjadi identitas Bangsa Indonesia.
Sebaiknya sebagai lembaga pendidikan seperti sekolah dapat menjadi media dalam
pengembangan diri dan juga pengembangan karakter peserta didik sehingga akan
tercipta akhlaqul karimah pada diri
masing-masing individu. Di sini dibutuhkan peran penting guru yang notabennya
sebagai orang tua siswa di sekolah, sarana dan prasarana yang efektif dalam
pelaksanaannya . Diharapkan guru tidak hanya mengajar tetapi juga mendidik
seperti peribahasa jawa yakni Guru, digugu dan ditiru maksudnya adalah guru
mampu memberi teladan bagi siswanya.
Hubungan sosiologi dan kebudayaan dengan pendidikan
terletak pada penyampaiannya yaitu pendidikan sebagai agen transfer nilai
kebudayaan pada peserta didik sehingga dapat tercipta masyarakat yang
berbudaya, dalam arti memiliki karakter yang dapat berkontribusi untuk
masyarakat.
0 komentar:
Posting Komentar